Selalu Ada Luka

Selalu Ada Luka adalah puisi yang saya tulis dalam perjalanan Jakarta-Pekanbaru, pada 23 Agustus 2006. Kala itu, saya hadir untuk sebuah event budaya di Teluk Kuantan, yakni Pacu Jalur. Jalur, dalam bahasa setempat adalah perahu. Jadi pacu jalur sebetulnya adalah lomba perahu. Namun, puisi ini bukan soal pacu jalur. Tentang apa? Mari simak saja.

Jangan Lupa Kirim Puisi untuk PPN Kudus

Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XI diadakan di Kudus, Jawa Tengah, 28-30 Juni 2019. Kegiatan ini akan diramaikan oleh para penyair Indonesia dan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan lain-lain. Seperti biasa pertemuan sastra, kegiatan yang diketuai oleh penyair Jumari HS ini juga ditandai dengan pengumpulan puisi peserta yang akan dibukukan dan diluncurkan pada saat acara.

Kasidah Pendakian dan Refleksi Setengah Abad Indonesia

Pada 1995, sebuah pertemuan penyair diadakan di Solo, tepatnya di Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah. Nama acaranya, Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka. Acara itu melibatkan para penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah nama besar juga hadir, ada KH Mustofa Bisri, Rendra, Ken Zuraida, Ratna Riantiarno, Ratna Sarumpaet dan sebagainya. Salah satu penggerak utama kegiatan itu adalah Murtidjono, Kepala Taman […]

Senja Jakarta

Kini telah senja tetaplah tersenyum meski terpepes di dalam kereta seperti itulah sebuah perjalanan: orang-orang berbondong-bondong berangkat pada pagi hari

Contoh Baca Puisi Tanpa Memarahi Puisi

Dua hari lalu, saya menulis tentang baca puisi yang terkadang seperti memarahi puisi. Yang belum sempat membaca, silakan menyimaknya tulisan berjudul Baca Puisi Tak Perlu Seperti Memarahi Puisi. Kali ini, saya akan memberi beberapa contoh bagaimana puisi bisa dibacakan dengan asyik tanpa perlu berteriak-teriak atau mirip memarahi puisi.

Baca Puisi Tak Perlu Seperti Memarahi Puisi

Secara guyonan, saya kadang suka iseng nyelutuk saat melihat orang membaca puisi pakai teriak-teriak: “Tolong jangan memarahi puisi.” Tentu ucapan spontan itu tak akan terdengar oleh orang yang sedang membaca puisi. Tapi minimal orang-orang di sekeliling saya mendengarnya.

Tuan Sastrawan

Tuan, tadi sore seseorang menelpon dan mengaku sebagai tuan. Tentu saja saya tak percaya karena saya melihat tuan sedang tidur siang di sebuah kubangan.

Lomba Baca Puisi Festival Literasi Padangpanjang

Padangpanjang termasuk salah satu kota yang sangat aktif dalam bidang literasi dan seni. Ini memang bisa dipahami, karena di kota itu berdiri sebuah kampus seni, yakni Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang. Saya pernah beberapa kali ke sana untuk mengisi beberapa acara, mulai dari pemateri diskusi, peluncuran buku, hingga menjadi workshop jurnalistik.

Sepasang Kereta, dari Puisi ke Karya Rupa

Tulisan ini masih melanjutkan tulisan sehari sebelumnya. Jika sebelumnya saya merespon lukisan Jeffrey Sumampouw, kali ini Jeffrey yang merespon puisi saya. Puisi itu saya tulis pada 2009, ketika saya bersama sejumlah penyair Aceh hadir untuk “silaturahmi puisi” di Yogyakarta. Puisi ini saya tujukan kepada dua kawan yang amat baik dan bersahaja, mulai dari menyambut kami, hingga menyiapkan acara di sana.

Dari Missing Room Jeffrey Sumampouw ke Puisi Mata Pisau

Depok adalah “tempat tidur” bagi banyak seniman nasional. Ada penulis sastra alias sastrawan, seniman teater, aktor/aktris, perupa, pegiat film, penari, dan seterusnya. Mereka hanya tinggal di Depok, namun mereka berkiprah di luar Depok. Ketika diundang ke berbagai forum seni di dalam dan luar negeri, mereka disebut sebagai “seniman Jakarta” atau “Seniman Indonesia”, bukan seniman Depok. Padahal mereka tinggal di Depok.

Apakah Kita Masih Merindukan Kampung Halaman?

Kampung dan kota, apa bedanya? Teknologi informasi membuat batas-batas desa dan kota semakin tipis, bahkan tak berbatas lagi. Saat sebuah peristiwa terjadi di satu sudut dunia dalam sekejab informasinya menyebar ke seluruh sudut dunia lain. Tak hanya dalam bentuk teks, tapi dalam bentuk multimedi: foto, video dan suara.

Habis Burman, dari Rex ke Blang Bintang

Sosok yang saya ditulis dalam puisi ini sangat unik. Teman-teman penyair di Aceh menyebutnya “Presiden”. Lengkapnya adalah “Presiden Rex”. Ini tak lain adalah sebutan Kompas ketika menulis profilnya panjang lebar pada 1990-an. Rex, yang berlokasi di Peunayong, Banda Aceh, adalah pusat jajan penting di Aceh.

Dari Sastra Kontekstual ke Puisi Realitas Zaman

OLEH: MUSTAFA ISMAIL, penulis sastra dan kebudayaan. | “…. penyair dituntut untuk lebih peduli di masa kini. Peduli berarti harus siap memahami realitas zaman. Penyair semakin dituntut untuk mengasah indranya kian peka menyikapi fakta melalui ungkapan kata.” (Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin dalam teks pidato Hari Puisi Indonesia 2018).

Puisi Bagus versus Karya Juara

Beberapa lalu, saya memperlihatkan sebuah buku puisi kepada seorang kawan baik yang datang ke rumah. Puisinya pendek-pendek. Teman yang membaca itu bilang: “Bagus-bagus puisinya ya,” katanya. “Segar.” Saya menimpali: kekuatan puisi memang tidak ditentukan oleh panjang-pendeknya. “Jadi tidak perlu memaksa diri puisi harus menulis puisi panjang-panjang.”

Mari Ngopi dan Berpuisi

Kopi dan puisi boleh jadi tak jelas hubungannya. Puisi tidak dilahirkan oleh kopi, begitu sebaliknya: kopi tidak dilahirkan oleh puisi. Puisi tidak mempengaruhi kopi dan kopi tidak mempengaruhi puisi. Kedua benda itu tidak diikat oleh benang merah tertentu. Ada penyair yang suka kopi, ada pula yang tidak. Bahwa sebagian besar penyair itu suka ngopi, itu bukan sesuatu yang luar biasa. […]