Syair Kehilangan

… maka hanyutlah sekeping emas terbawa deras arus. tambang mana mesti kembali aku mencarinya. atau kubiarkan saja kereta pagi lewat dan menggilasku. dalam tidur panjang

Diam-Diam Kutulis Sebait Puisi

Puisi ini, “Diam-diam Kutulis Sebait Puisi”, masih merupakan bagian dari puisi-puisi dalam bundel “Perjalanan” karya saya. Puisi ini saya tulis di kampung saya di Trienggadeng (dulu Kabupaten Pidie, kini Pidie Jaya) bertolak dalam sebuah perjalanan dari Banda Aceh ke kampung. Puisi ini memadukan pengalaman sosial sekaligus trandensental.

Sajak Tahun Baru

Semula sajak ini, seperti terketik di bundel Perjalanan berjudul “Selamat Pagi”. Namun, entah kapan, saya telah mencoret judul ketikan itu dengan tinta balpoin hitam dan di atasnya saya tulis “Sajak Tahun Baru”. Memang, puisi itu saya tulis pada 1 Januari 1992. SAJAK TAHUN BARU selamat pagi pak tani, sapa mentari baru pagi ini. sesuai mandi, kita mulai lagi membajak sawah. […]

Sensus Penyair dan Puisi Konyol

Sungguh, saya agak geli membaca puisi berjudul “Sensus Penyair” ini. Puisi yang saya tulis pada Desember 1991 itu rada-rada “gimana”. Puisi ini bagian dari bundel puisi saya berjudul “Perjalan” dengan ketikan mensin ketik — yang tentu saja tidak ada file softcopynya. Maka itu, puisi ini saya ketik ulang sebagaimana adanya.

Miskin atawa Ketika Tubuh Digayut Sakit

Aslinya, sesuai ketikan di bundel “Perjalanan” (Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992″ puisi ini berjudul “Ketika Tubuh Digayut Sakit”. Tapi, entah kapan, judul puisi itu kemudian saya coret dengan ballpoin dan di atasnya saya tulis kata “Miskin” sebagai judul baru — dengan huruf kapital. Puisi yang lahir pada 1991 ini saya ketik ulang seperti aslinya di bundel itu.

Hampa

sia-sia. matahari bergulir bagai desing peluru membentangkan padang-padang tandus. laut mana kucari tersimpan mimpi-mimpiku. pada langit hanya membersit jalan.

Memar, Kisah tentang Sebuah Kesadaran

Puisi ini saya tulis seusai ujian di kampus pada 11 Agustus 1991. Saya tidak ingat apa yang melecut saya menulis puisi ini. Hal yang bisa saya catat: puisi menyuratkan sekaligus menyiratkan kesadaran tertentu terhadap sebuah keadaan. Terkadang, baru menyadari sesuatu ketika berada di satu titik. Begitu pun saya. Saya tersentah oleh sebuah peristiwa dan saat itulah saya tersadar.

Haminsatu Ziarah Sunyi

Ziarah Sunyi adalah buku kumpulan puisi relegi, yang kami terbitkan untuk Tadarus Puusi yang diadakan oleh Teras Budaya di Tempo pada Ramadan 2017 (Juni 2017). Buku itu dikuratori/editori oleh tiga orang: saya (Mustafa Ismail), Iwan Kurniawan dan Juli Hantoro.

Kenapa Kita Menjadi Pengecut

Puisi “Kenapa” saya petik dari bundel “Perjalanan”. Puisi ini saya tulis pada 1991 dan pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia pada 1991. Ini semacam perenungan terhadap perjalanan. Adakalanya kira ragu-ragu menghadapi sesuatu, tapi justru itu membuat kita tidak “ke mana-mana”. Tapi, keraguan adalah hal lumrah dalam hidup, sebagai sebuah proses pematangan diri.

Syair Kehilangan, Perlukah Kita Menangis?

Perlukah kehilangan ditangisi? Ada yang menangisi, dan ada yang tidak. Semua orang punya cara sendiri menghadapi kehilangan. Masing-masing kita punya kearifan sendiri untuk memaknai kehilangan. Puisi berikut, lagi-lagi, saya kutip dari bundel puisi saya tahun 1990-1992 bertajuk “Perjalanan”. Inilah cara saya memaknai sebuah kehilangan.

Ibu, Ada Sebait Puisi Kubaca di Matamu….

Semua kita pastilah menempatkan ibu — dan ayah kita — di tempat paling terhormat dan paling mulia. Jadi, untuk puisi ini, saya tidak akan banyak bernarasi. Biarlah puisi ini yang menjelaskan semuanya. Seperti dua puisi yang posting sebelumnya, puisi ini juga saya tulis pada 1990 dan terkumpul dalam bundel “Perjalanan”.

Potret Tua dan Refleksi Perjalanan

Seperti puisi “Tapak Sepatu”, puisi “Potret Tua, ini juga puisi lama yang saya kumpulkan dalam bundel puisi “Perjalanan: Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992”. Ini semacam refleksi terhadap perjalanan hidup. Kadang kita tidak menyadari tiba-tiba kita sudah berada di sebuah titik, halte, atau persinggahan. Nah, di situlah tak jarang memutar kembali “film” perjalanan kita.

Tapak Sepatu dan Bundel Puisi Berdebu

Puisi ini, “Tapak Sepatu”, saya tulis pada Januari 1990. Kala itu, saya baru mulai intens menulis puisi. Barusan saya menukan bundel puisi itu dalam bentuk ketikan mesin tik di rak buku, di antara buku-buku puisi yang berdesak-desakan di sana. Bundel buku itu saya beri judul Perjalanan (Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992).