Tulisan Pilihan

Dari Sebiji Padi

dari sebiji padi kita menjelma pagi, sepotong sajak dan secangkir kopi – tumpah di tepi “kau pasti lupa pada pulot, timphan dan seudati.” aku selalu membenci mulutmu yang sebiru mataku meruapkan aroma Seulawah dengan rumah tua di pucuknya dan kau pernah berpose di sana sambil membayangkan:

Seperti Apa Wajah Sastra Pasca Koran

Seharusnya tulisan yang benar, menurut ejaan Bahasa Indonesia, adalah “Sastra Pascakoran”. Tapi saya kok ya kurang sreg menulis dengan kata “pascakoran”. Penggabungan dua hal ini seperti menisbikan koran dan membentuk kata baru yakni “pascakoran”. Padahal artinya sama dengan Sastra Setelah Koran. Jadi saya pakai ejaan yang salah.

Baca Puisi VS Pertunjukan Puisi

Kali ini saya ingin bicara soal baca puisi. Sebagian orang masih bingung membedakan. Padaha keduanya berbeda. Baca puisi adalah upaya mengartikulasikan puisi kepada penonton dengan cara membaca, sekali lagi: membaca. Lalu, apa itu pertunjukan puisi? Simak saja rangkuman #twitsastra saya di akun Twitter @musismail.com.

Karya yang Melawan Kebiasaan

Puisi dan cerpen yang asyik, bagi saya, adalah yang melawan kebiasaan dan menyajikan sesuatu yang segar serta dengan cara yang segar pula. Ia bukan potret realitas, meskipun bisa saja bertolak realitas, namun ia harus melebih apa yang menjadi realitas atau terjadi dalam realitas. Di situlah nilai lebih karya sastra.

Puisi Gelap Politik

Kita sering lupa adigium politik: tidak ada kawan atau musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Jika sejak awal kita sadar barangkali kita tidak akan terlalu uring-uringan ketika tokoh idola kita berbalik haluan, yang tadi berseberangan tapi kemudian berangkulan, yang tadi saling serang tapi kemudian saling berbagi “kasih sayang”. Ini lumrah saja dan tak istimewa.

Idul Fitri, Takbir, Lilin dan Petasan

Saya kini berada ribuan kilometer dari kampung saya di sebuah kota kecil di Aceh. Di kampung saya, yang dulu masuk wilayah Kabupaten Pidie namun belakangan karena pemekaran menjadi bagian dari Pidie Jaya, terutama ketika saya kecil, tak banyak hiruk pikuk. Setiap malam Lebaran saya membakar lilin dan menjejerkannya di pagar. Apa hubungannya lebaran dengan lilin?

Sahur

Saya punya cara sahur sendiri: makan kapan saja dan saya niatkan untuk sahur. Memang, sebenarnya sahur sangat dianjurkan dalam rentang waktu lewat tengah malam hingga waktu imsak, beberapa menit sebelum subuh.

Sebuah Pojok di Gerbang TIM

Letaknya persis sebelah kiri di antara dua tiang besar gerbang Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya No 73 Jakarta Pusat. Di sinilah kami — sejumlah penulis dan kreator seni lainnya — kerap duduk sambil membincangkan aneka hal: dari puisi, seni, tulis-menulis, bisnis, gosip-gosip politik hingga cryptocurrency. Semua pembicaraan ditemani angin malam dan kopi (dan/atau teh) yang kami pesan dari […]

Syair Kehilangan

… maka hanyutlah sekeping emas terbawa deras arus. tambang mana mesti kembali aku mencarinya. atau kubiarkan saja kereta pagi lewat dan menggilasku. dalam tidur panjang

Lanjutan Kisah Hansaplast, Gunting dan Lain-lain

………….. Saya teringat ada sebuah ponsel Nokia berbasis Windows yang tak terpakai di rumah. Tapi, masalahnya hp itu tidak bisa pakai WhatsApp. Sementara, nomor kontak orang yang janjian lihat laptop itu di Whatsapp. Tapi, untuk jaga-jaga, saya pindahkan nomor saya ke ponsel berbasis windows itu. Saya berharap orang tersebut akan mengontak saya ke nomor biasa, bukan lewat WA. Saya janjian […]

Diam-Diam Kutulis Sebait Puisi

Puisi ini, “Diam-diam Kutulis Sebait Puisi”, masih merupakan bagian dari puisi-puisi dalam bundel “Perjalanan” karya saya. Puisi ini saya tulis di kampung saya di Trienggadeng (dulu Kabupaten Pidie, kini Pidie Jaya) bertolak dalam sebuah perjalanan dari Banda Aceh ke kampung. Puisi ini memadukan pengalaman sosial sekaligus trandensental.

Sajak Tahun Baru

Semula sajak ini, seperti terketik di bundel Perjalanan berjudul “Selamat Pagi”. Namun, entah kapan, saya telah mencoret judul ketikan itu dengan tinta balpoin hitam dan di atasnya saya tulis “Sajak Tahun Baru”. Memang, puisi itu saya tulis pada 1 Januari 1992. SAJAK TAHUN BARU selamat pagi pak tani, sapa mentari baru pagi ini. sesuai mandi, kita mulai lagi membajak sawah. […]

Sensus Penyair dan Puisi Konyol

Sungguh, saya agak geli membaca puisi berjudul “Sensus Penyair” ini. Puisi yang saya tulis pada Desember 1991 itu rada-rada “gimana”. Puisi ini bagian dari bundel puisi saya berjudul “Perjalan” dengan ketikan mensin ketik — yang tentu saja tidak ada file softcopynya. Maka itu, puisi ini saya ketik ulang sebagaimana adanya.