Syair Kehilangan, Perlukah Kita Menangis?

Perlukah kehilangan ditangisi? Ada yang menangisi, dan ada yang tidak. Semua orang punya cara sendiri menghadapi kehilangan. Masing-masing kita punya kearifan sendiri untuk memaknai kehilangan. Puisi berikut, lagi-lagi, saya kutip dari bundel puisi saya tahun 1990-1992 bertajuk “Perjalanan”. Inilah cara saya memaknai sebuah kehilangan.

Ibu, Ada Sebait Puisi Kubaca di Matamu….

Semua kita pastilah menempatkan ibu — dan ayah kita — di tempat paling terhormat dan paling mulia. Jadi, untuk puisi ini, saya tidak akan banyak bernarasi. Biarlah puisi ini yang menjelaskan semuanya. Seperti dua puisi yang posting sebelumnya, puisi ini juga saya tulis pada 1990 dan terkumpul dalam bundel “Perjalanan”.

Tapak Sepatu dan Bundel Puisi Berdebu

Puisi ini, “Tapak Sepatu”, saya tulis pada Januari 1990. Kala itu, saya baru mulai intens menulis puisi. Barusan saya menukan bundel puisi itu dalam bentuk ketikan mesin tik di rak buku, di antara buku-buku puisi yang berdesak-desakan di sana. Bundel buku itu saya beri judul Perjalanan (Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992).

Selalu Ada Luka

Selalu Ada Luka adalah puisi yang saya tulis dalam perjalanan Jakarta-Pekanbaru, pada 23 Agustus 2006. Kala itu, saya hadir untuk sebuah event budaya di Teluk Kuantan, yakni Pacu Jalur. Jalur, dalam bahasa setempat adalah perahu. Jadi pacu jalur sebetulnya adalah lomba perahu. Namun, puisi ini bukan soal pacu jalur. Tentang apa? Mari simak saja.

Kasidah Pendakian dan Refleksi Setengah Abad Indonesia

Pada 1995, sebuah pertemuan penyair diadakan di Solo, tepatnya di Taman Budaya Surakarta, Jawa Tengah. Nama acaranya, Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka. Acara itu melibatkan para penyair dari berbagai daerah di Indonesia. Sejumlah nama besar juga hadir, ada KH Mustofa Bisri, Rendra, Ken Zuraida, Ratna Riantiarno, Ratna Sarumpaet dan sebagainya. Salah satu penggerak utama kegiatan itu adalah Murtidjono, Kepala Taman […]

Senja Jakarta

Kini telah senja tetaplah tersenyum meski terpepes di dalam kereta seperti itulah sebuah perjalanan: orang-orang berbondong-bondong berangkat pada pagi hari

Tuan Sastrawan

Tuan, tadi sore seseorang menelpon dan mengaku sebagai tuan. Tentu saja saya tak percaya karena saya melihat tuan sedang tidur siang di sebuah kubangan.

Sepasang Kereta, dari Puisi ke Karya Rupa

Tulisan ini masih melanjutkan tulisan sehari sebelumnya. Jika sebelumnya saya merespon lukisan Jeffrey Sumampouw, kali ini Jeffrey yang merespon puisi saya. Puisi itu saya tulis pada 2009, ketika saya bersama sejumlah penyair Aceh hadir untuk “silaturahmi puisi” di Yogyakarta. Puisi ini saya tujukan kepada dua kawan yang amat baik dan bersahaja, mulai dari menyambut kami, hingga menyiapkan acara di sana.

Dari Missing Room Jeffrey Sumampouw ke Puisi Mata Pisau

Depok adalah “tempat tidur” bagi banyak seniman nasional. Ada penulis sastra alias sastrawan, seniman teater, aktor/aktris, perupa, pegiat film, penari, dan seterusnya. Mereka hanya tinggal di Depok, namun mereka berkiprah di luar Depok. Ketika diundang ke berbagai forum seni di dalam dan luar negeri, mereka disebut sebagai “seniman Jakarta” atau “Seniman Indonesia”, bukan seniman Depok. Padahal mereka tinggal di Depok.

Habis Burman, dari Rex ke Blang Bintang

Sosok yang saya ditulis dalam puisi ini sangat unik. Teman-teman penyair di Aceh menyebutnya “Presiden”. Lengkapnya adalah “Presiden Rex”. Ini tak lain adalah sebutan Kompas ketika menulis profilnya panjang lebar pada 1990-an. Rex, yang berlokasi di Peunayong, Banda Aceh, adalah pusat jajan penting di Aceh.

Sabang, Kapal

Jika Anda ke Aceh, tak lengkap jika tidak ke Sabang. Sabang, yang terletak di Pulau Weh, adalah salah satu destinasi wisata yang indah. Pulau kecil itu berada di tengah laut. Tentu, utuk mencapainya Anda harus menggunakan kapal. Perjalanan dari Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, ke Sabang, memakan waktu sekitar dua jam dengan menggunakan kapal biasa. Tiketnya dulu Rp.30.000 (kelas ekonomi). […]

Sajak Dibuang Sayang: Ironi Pagi

Saya tak ingat kapan puisi ini saya tulis, dugaan saya pada akhir 1990-an atau awal 2000-an. Saya tak sengaja menemukan filenya di komputer ketika membaca-baca tulisan lama. Saya belum berniat untuk memperbaikinya — agar layak dikirimkan ke koran misalnya. Saya posting saja dulu di sini seperti aslinya.

Trienggadeng

Jika Anda melintas di jalur pantai utara (Pantura) Aceh dari Banda Aceh ke Medan atau sebaliknya, singgahlah sebentar di Trienggadeng. Apa istimewanya? Tidak terlalu istimwewa, tapi jika Anda singgah cukup membuat Anda kangen untuk singgah lagi di lain waktu.

Puisi tentang Pengungsi Rohingya

Tahun lalu, kawan-kawan di Ruang Sastra menggagas untuk membuat buku puisi tentang tragedi kekerasan di Myanmar, yang membuat banyak warga Rohingya harus mengungsi ke luar dari negeri itu. Buku itu menghimpun karya para penyair dari seluruh Indonesia. Selain itu, berbagai buku terbit sebagai tanda simpati untuk pengungsi Rohingya. Selain yang digagas oleh Ruang Sastra, ada pula buku bertema lebih luas […]

Bengkulu yang Manis

Puisi ini saya bacakan di pentas terakhir Festival Sastra Bengkulu di perkebunan teh di Kebawetan, Kepahiyang, Minggu, 15 Juli 2018. Festival Sastra Bengkulu berlangsung pada 13-15 Juli 2018. Kegiatan disebar di sejumlah tempat. Pembukaan acara oleh PLT Gubernur Bengkulu di Pendopo Gubernur, Jumat malam, 13 Juli 2018.