Memar, Kisah tentang Sebuah Kesadaran

Puisi ini saya tulis seusai ujian di kampus pada 11 Agustus 1991. Saya tidak ingat apa yang melecut saya menulis puisi ini. Hal yang bisa saya catat: puisi menyuratkan sekaligus menyiratkan kesadaran tertentu terhadap sebuah keadaan. Terkadang, baru menyadari sesuatu ketika berada di satu titik. Begitu pun saya. Saya tersentah oleh sebuah peristiwa dan saat itulah saya tersadar.

Kenapa Kita Menjadi Pengecut

Puisi “Kenapa” saya petik dari bundel “Perjalanan”. Puisi ini saya tulis pada 1991 dan pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia pada 1991. Ini semacam perenungan terhadap perjalanan. Adakalanya kira ragu-ragu menghadapi sesuatu, tapi justru itu membuat kita tidak “ke mana-mana”. Tapi, keraguan adalah hal lumrah dalam hidup, sebagai sebuah proses pematangan diri.

Potret Tua dan Refleksi Perjalanan

Seperti puisi “Tapak Sepatu”, puisi “Potret Tua, ini juga puisi lama yang saya kumpulkan dalam bundel puisi “Perjalanan: Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992”. Ini semacam refleksi terhadap perjalanan hidup. Kadang kita tidak menyadari tiba-tiba kita sudah berada di sebuah titik, halte, atau persinggahan. Nah, di situlah tak jarang memutar kembali “film” perjalanan kita.

Cahaya Tak Selalu Milik Kita

Selalu ada cahaya dari jauh dari tempat yang mungkin sulit kita jangkau. Tapi kita bisa menikmati keindahannya Begitulah. Tak semua hal di dunia ini bisa kita rengkuh. Tak semua hal harus atau bisa kita tempuh. Tak semua.

Foto-Foto Pasar Terapung di Banjarmasin

Pada 2 Desember lalu, saya berkesempatan mengunjungi pasar terapung di Banjarmasin. Itu adalah hari terakhir saya di Kalimantan Selatan untuk mengikuti Banjarbaru Rainy Days Festival 2018 yang diadakan di Banjarbaru oleh Pemerintah Kota Banjarbaru. Sabtu malam, penyair Zulfaisal Putra mengajak saya, Binhad Nurohmat dan Willy Ana untuk menikmati Banjarmasin. Paginya, selepas subuh, ditemani Pak Gusti — salah pegiat budaya Kalimantan […]