Mulut Terminal

CERPEN: Mustafa Ismail SEMUA bermula pada satu sore. Matahari masih menyala. Orang-orang terus mengalir ke terminal itu, tempat bus-bus ukuran besar antar provinsi bahkan antar pulau, datang dan pergi membawa penumpang. Dewi, isteriku, buru-buru ke sana untuk mengejar bis malam untuk pulang kampung, karena mendapat kabar ibunya sakit keras. Berkali-kali ia memberi aba-aba kepada sopir taksi yang membawanya, agar melaju […]

Lelaki yang Ditelan Gerimis

Cerpen: Mustafa Ismail KAMI bertemu di Rex, Peunayong, ketika gerimis baru saja reda mengguyur Kota Banda Aceh itu. Aku tidak tahu dia muncul dari mana, tiba-tiba dia sudah berada di depanku. Sejenak aku sempat terperangah dengan kehadirannya. Aku hampir tidak mengenalnya jika ia tidak menyebut namanya sendiri, sambil bertanya kepadaku dalam logat Aceh yang kental, “Kau masih ingat kan?” Jelas […]

Pacar Seharga Rp 100 Juta

>Ini cerpen lama, saya tulis pada tahun 2013, ketika era SMS masih berjaya. Gagasanya tentang telepon genggam yang digunakan menawarkan barang, jasa hingga penipuan. Cerpen: Mustafa Ismail Ketika aku berlari-lari menghindar dari gerimis, sehabis makan siang di dekat kantor, telepon genggamkan berbunyi. Tapi aku tak mungkin berhenti untuk mengangkatnya. Baru ketika tiba di kantor, aku buka. Ada lima telepon dari […]

Timphan

>Timphan is the way the Acehnese colored the Idul Fitri. Lebaran is incomplete withot timphan. But when the conflict occurred in Aceh, some people became refugees outside Aceh. But they still make timphan as a way of treating the longing for the village. The idea of this short story departs from a real story in the era of conflict that […]

Aku Ingin Jadi Kupu-kupu

Cerpen Mustafa Ismail | Bapak mengabarkan pekan depan kami pindah. Pindah lagi, lebih tepatnya. Hampir setiap tahun kami pindah. Tidak jauh-jauh memang, tetap di lingkungan ini-ini saja. Kami memang tidak mungkin pindah jauh, karena aku sekolah tidak jauh dari sini, di sebuah sekolah menengah atas. Jika pindah jauh, apalagi ke pinggiran kota, jelas akan membuatku kalang-kabut. “Kalau aku sudah kuliah […]

Ajak Aku Melihat Kunang-Kunang

Oleh Mustafa Ismail —- Sumber: Suara Pembaruan, 10 Februari 2008 — Lelaki itu membuka komputer, lalu mengaktifkan Yahoo! Messenger. Ia meneliti satu persatu nama-nama di sana. Beberapa temannya sedang online. Tapi lebih banyak tidak. Sudah sore, pikirnya, teman-teman yang biasa mengaktifkan YM di kantor, sudah mulai pulang. Rus ingin menyapa beberapa teman yang tinggalnya terpisah-pisah di berbagai kota dan luar […]