Batang

Batang, Jawa Tengah, adalah daerah yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk. Di jalanan Batang kita dengan mudah menemukan orang-orang yang melaju tanpa terburu-buru, seolah tak ada yang harus ngotot dikejar dalam hidup ini. Santai, namun bersemangat. Banyak yang bermotor, tak jarang pula yang bersepeda. Ada pula yang berjalan kaki atau menggunakan becak tradisional yang didayung dari belakang.

Haba Jameun dan Penulis Milenial

Dulu, pada awal 1990-an, saya sangat rajin mengirim karya (puisi, cerpen, dan opini) ke Serambi Indonesia. Halaman sastra diasuh oleh sastrawan senior Aceh, Hasyim KS (Alamrhum). Adapun halaman Opini dipegang Yarmen Dinamika, dan sempat pula digawangi Teuku Ahmad Dadek dan kemudian beberapa yang lain.

Tiket Pesawat Mahal Pembunuh Festival Sastra

Sejumlah teman penulis sastra makin berat kini menghadiri festival-festival sastra. Pasalnya, ongkos perjalanan kini berbeda dengan setahun lalu. Tahun lalu, ketika saya menghadiri Festival Sastra Bengkulu 2018, tiket pesawat terendah masih Rp 400 ribuan. Kini harganya sekitar Rp. 800 ribu untuk harga terendah.

Seperti Apa Wajah Sastra Pasca Koran

Seharusnya tulisan yang benar, menurut ejaan Bahasa Indonesia, adalah “Sastra Pascakoran”. Tapi saya kok ya kurang sreg menulis dengan kata “pascakoran”. Penggabungan dua hal ini seperti menisbikan koran dan membentuk kata baru yakni “pascakoran”. Padahal artinya sama dengan Sastra Setelah Koran. Jadi saya pakai ejaan yang salah.

Baca Puisi VS Pertunjukan Puisi

Kali ini saya ingin bicara soal baca puisi. Sebagian orang masih bingung membedakan. Padaha keduanya berbeda. Baca puisi adalah upaya mengartikulasikan puisi kepada penonton dengan cara membaca, sekali lagi: membaca. Lalu, apa itu pertunjukan puisi? Simak saja rangkuman #twitsastra saya di akun Twitter @musismail.com.

Karya yang Melawan Kebiasaan

Puisi dan cerpen yang asyik, bagi saya, adalah yang melawan kebiasaan dan menyajikan sesuatu yang segar serta dengan cara yang segar pula. Ia bukan potret realitas, meskipun bisa saja bertolak realitas, namun ia harus melebih apa yang menjadi realitas atau terjadi dalam realitas. Di situlah nilai lebih karya sastra.

Idul Fitri, Takbir, Lilin dan Petasan

Saya kini berada ribuan kilometer dari kampung saya di sebuah kota kecil di Aceh. Di kampung saya, yang dulu masuk wilayah Kabupaten Pidie namun belakangan karena pemekaran menjadi bagian dari Pidie Jaya, terutama ketika saya kecil, tak banyak hiruk pikuk. Setiap malam Lebaran saya membakar lilin dan menjejerkannya di pagar. Apa hubungannya lebaran dengan lilin?

Sahur

Saya punya cara sahur sendiri: makan kapan saja dan saya niatkan untuk sahur. Memang, sebenarnya sahur sangat dianjurkan dalam rentang waktu lewat tengah malam hingga waktu imsak, beberapa menit sebelum subuh.

Sebuah Pojok di Gerbang TIM

Letaknya persis sebelah kiri di antara dua tiang besar gerbang Taman Ismail Marzuki (TIM), Jalan Cikini Raya No 73 Jakarta Pusat. Di sinilah kami — sejumlah penulis dan kreator seni lainnya — kerap duduk sambil membincangkan aneka hal: dari puisi, seni, tulis-menulis, bisnis, gosip-gosip politik hingga cryptocurrency. Semua pembicaraan ditemani angin malam dan kopi (dan/atau teh) yang kami pesan dari […]

Hijrah, Hijrah, Hijrah….

Seorang kawan bercerita kini makin banyak anak muda, yang tadinya hidup ugal-ugalan dan “liar”, mulai memperbaiki diri menjadi lebih baik. Sebagian di antara mereka adalah para pelaku seni dan hiburan. Mereka menjadi rajin ibadah, mulai ibadah wajib hingga sunat dan menjauhi hal-hal yang dilarang agama. Istilah populernya adalah hijrah. Kata itu diambil dari bahasa Arab, yang artinya berpindah tempat.

Pahala, Bakti dan Cinta

Ketika melewati sebuah jalan, suatu ketika, saya melihat spanduk dengan kata-kata yang sangat menohok, kira-kira begini: Sedekah adalah Tiket Menuju Surga. Spanduk itu dipasang oleh sebuah lembaga sosial-keagamaan yang mengumpulkan dana publik untuk disalurkan kepada orang-orang membutuhkan. Waktu kecil, saya kerap mendengar ceramah di meunasah bahwa memberi makan anak yatim pahalanya sangat besar.

Tangan Kanan Memberi, Tangan Kiri Tak Tahu

>Rezeki bukan saja titipan, tapi sekaligus ujian: apakah kita bisa menggunakannya dengan baik dan untuk jalan kebaikan. Seorang kawan, Suman, bersungut-sungut tak habis pikir sejak kapan orang-orang di kampungnya terkena penyakit narsis. Alkisah begini. Kampung mereka, Meurandeh, berencana merenovasi meunasah alias langgar atau musalla, dalam bahasa Indonesia. Plafon sudah mulai keropos karena beberapa bagian atap tireh (bocor). Jadi, atap harus […]

Robur, Simpang Mesra dan Romantika Mahasiswa Aceh

Saya tidak kuliah di Darussalam. Di sana, ada dua kampus negeri yang telah banyak melahirkan sarjana dan sebagian di antaranya menjadi pemimpin di Aceh maupun di luar Aceh. Saya kuliah di sebuah kampus di pojok lain Banda Aceh, yakni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIEI) Banda Aceh. Tak ada robur yang mengantar mahasiswa dari pusat kota Banda Aceh ke “kampus […]