cangpanah
Jangan Pernah Tinggalkan Kamus

Jangan Pernah Tinggalkan Kamus

Saya selalu meletakkan kamus di tempat paling mudah dijangkau, biasanya di meja tempat saya bekerja. Ada kamus Bahasa Indonesia, Inggris, tesaurus, kamus ungkapan, kamus istilah, dan lain-lain. Mengapa? Saya sering sangat membutuhkannya untuk memeriksa makna, cara penulisan, dan ejaan.

Sekarang lebih mudah: kamus tersedia secara online dan bisa diunduh di komputer maupun di telepon seluler. Sehingga, ketika hendak memeriksa kata tertentu, tinggal buka aplikasi. Jadi tidak harus bawa-bawa kamus ke mana-mana, ketika bekerja di luar rumah, misalnya.

Sebetulnya kamus tidak hanya dibutuhkan untuk menulis dan menyunting. Kamus pun tetap penting ketika kita menulis hal-hal yang mungkin dianggap “remeh-temen”, semisal status media sosial, postingan di Twitter dan instagram, dsb. Mengapa? Kita tidak mungkin mengandalkan ingatan terhadap sebuah kata.

Soal ejaan misalnya. Orang kadang masih suka keliru menuliskan sebuah kata. Misalnya kata “tekad” , ada yang menulis dengan “tekat”. Padahal yang benar adalah “tekad”. Contoh lain, ada orang yang berlum tahu arti “cergas” dan dikira sama dengan “cerdas”. Padahal itu berbeda. Banyak contoh lain.

Begitu pula kata dalam Bahasa Inggris. Terkadang, kita hanya mengandalkan ingatan pengucapan sebuah kata tanpa mengecek lagi cara penulisan atau ejaan yang sebenarnya. Akibatnya bisa keliru. Hal semacam ini kerap ditemui di postingan di media sosial, entah di Facebook, Twitter, Instagram, dan grup WA. Misalnya, saya menemukan ada yang menulis kata “resign” dengan “resaign”.

Memangnya kenapa kalau keliru? Pertama, tulisan yang baik dan enak dibaca — status di media sosial sekali pun — adalah yang bersih dari hal-hal elementer. Kalau banyak ejaan salah, salah ketik dan sebagainya, tulisan itu menjadi tidak asyik. Kekeliruan itu bisa menurunkan bobot tulisan tersebut.

Kira-kira begini: untuk hal-hal elementer saja salah, bagaimana pula kita bisa yakin apa yang dia sampaikan itu benar. Untuk mengecek kebenaran hal-hal elementer saja malas, bagaimana pula dia bisa menyakinkan pembaca tidak malas memeriksa kebenaran substansi yang dia sampaikan.

Kedua, apa yang kita tulis, termasuk di media sosial, merefleksikan citra kita: sikap, perilaku, cara berpikir, sekaligus menunjukkan kecerdasan bahkan, sebaliknya, kebodohan kita. Kita bisa terlihat bodoh hanya karena abai memeriksa kata tertentu lalu salah menuliskannya, meskipun pada kenyataanya kita pintar.

Itulah sebabnya, saya selalu bersahabat dengan kamus di mana pun berada. Kamus begitu penting bagi siapa pun. Tak hanya bagi penulis, penyunting, dan orang-orang yang bergelut dengan bahasa. Kamus pun sangat berguna bagi “aktivis” media sosial. Kamus itu ibarat pacar yang tidak boleh sedetik pun ditinggal. | MI 240921

MUSTAFA ISMAIL
Twitter/IG: @ moesismail

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: