cangpanah
Honor 2T Plus Bonus 2M

Honor 2T Plus Bonus 2M

Dulu, saya termasuk orang yang sungkan bertanya honor ketika diundang menjadi narasumber sejumlah acara. Ada semacam kekhawatiran muncul kesan: penulis kok mata duitan. Meskipun, tidak ada yang bisa siapa membantah bahwa penulis butuh duit. Jadi, siapa sih yang tak “mata duitan”?

![introduction-3195427_1920.jpg](https://cdn.steemitimages.com/DQmY8gL6Zd4xUBQJ4FK57KAtFFmZ6K9Ms5DAMPsLH3NcCxb/introduction-3195427_1920.jpg)
> Ilustrasi: pixabay.com

Pada dasarnya semua orang ijo matanya kalau melihat duit. Meskipun warnanya merah bergambar Sokarno dan Hatta, tetap gak ngaruh. Ya, itu lumrah saja. Butuh duit itu bukan perbuatan tercela. Yang celaka kalau mencari duit dengan cara membabi-buta dan akhirnya terpaksa numpang tidur di kantor KPK.

Tapi itu apes-lah. Dan itu hanya beberapa saja. Tentu lebih banyak yang tetap bisa goyang dangdut di rumah mewah, dengan isteri sendiri maupun isteri orang atau anak orang. Apalagi mereka yang mencari duit dengan cara “tradisional”, semisal memelihara tuyul atau babi ngepet, tentu sulit bagi KPK mengusutnya.

Di samping orang yang suka memburu uang dengan cara-cara modern maupun tradisional, ada pula orang baik — biar lebih mudah kita sebut saja OB — yang suka menjanjikan dan memberi duit. Misalnya, politisi ketika pilkada atau pemilihan umum. Sehingga pilkada dan pemilu bisa disebut musim duit.

Memang jumlahnya tak seberapa, kisaran Rp 50-100 ribuanlah. Tapi itu lebih nyata dari pada orang yang cuma menjanjikan duit. Orang tentu akan pilih dapat uang Rp 50 ribu dan nyata, ketimbang dijanjikan duit Rp 2 T tapi tak jelas duitnya di mana. Logikanya, lebih baik makan beneran di warteg daripada makan di restoran mewah cuma janji belaka.

Meskipun secara etik dan politik, bagi-bagi duit pemilu itu “harom”, tapi bagi orang-orang kecil di desa-desa ya mereka anggap sedekah saja. Sedikit orang desa yang paham itu sogokan politik dan semacamnya. Urasan pilih-memlih, biasanya lebih ditentukan oleh bisik-bisik tetangga. Belum tentu yang ngasih duit yang kepilih. Bahkan, ada pula yang justru memanfaatkan OB tadi.

Saya pernah diceritain seorang kawan, gara-gara ikut jadi caleg di tingkat kabupaten, ludes beberapa rukonya. Proposal datang bertubi-tubi dan menggunung di rumahnya. Asalnya macam-macam, mulai dari pemuda, rumah ibadah, majelis ibu-ibu, pemuka agama, lembaga pendidikan, dan seterusnya.

Suatu kali dia memergoki sebuah majelis ibu-ibu, ternyata mereka juga meminta hal yang sama kepada caleg yang lain. Terus, siapa yang mereka pilih jika menerima dari banyak caleg? Ya, mboh. Entah. Begitulah absurdnya logika dalam pemilu, tapi para caleg tetap saja dengan riang gembira menggantungkan harapan sebesar-besarnya. Akibatnya setelah pemilu sakit jiwa.

Kembali ke soal honor tadi. Maaf, jadi ngelantur ke mana-mana. Menjadi narasumber tentulah butuh persiapan, seperti jaga stamina dengan telor setengah matang, susu beruang, hingga ongkos perjalanan, termasuk mengajak asisten untuk gaya-gayaan. Tugas asisten tentu bawa keperluan si pembicara, kayak ajudan kadeslah.

Tapi sangat jarang yang berani tanya honor. Mengapa? Sebagian orang masih menganggap kerja seni dan menulis sebagai ibadah sosial. Bukan untuk mengepulkan asap dapur. Untuk urusan itu mereka punya pekerjaan utama, entah menjadi guru, pegawai negeri, wartawan, karyawan swasta, petani, dan sebagainya.

Sebagian lagi malu-malu tapi mau. Ini golongan ambigu. Nah, bagi yang bawa asisten dadakan, biasanya dia yang maju untuk bertanya ke panitia, dengan kata-kata yang juga ambigu, semisal: Mas, apakah ada yang perlu diteken Bang Mus? Soalnya kami mau pulang. Kalau panitinya muka tembok dan bilang gak ada, ya wassalam. Apalagi kalau asisten juga malu-malu kucing.

Ia pun terpaksa menerima kata-kata panitia: “Terima kasih, Terima kasih” alias 2T– dengan wajah sedikit dimanis-maniskan. Kadang ditambah bonus 2M: “Mantap, mantap.” Itu untuk narasumber. Untuk acara baca puisi apalagi. Bahkan, ada panitia yang merasa memberi panggung kepada penulis dengan mengundangnya baca puisi. Jadi harusnya penulislah yang bayar ke pantia.

Tapi belakangan, saya tak malu-malu lagi bertanya honor. Wong itu hak kita dan halal kok. Saya biasanya bilang begini: tolong bikin surat undangan resmi ya sekaligus cantumkan apa saja hak-hak saya, seperti honor, transport, dan lain-lain jika ada. Saya belum memberi kepastian 100 persen sebelum ada undangan resmi itu.

Begitulan cara saya. Bagaimana cara Anda?

MI 030821
Twitter/Instagram: @ moesismail @ ruangmi
ruangmi.my.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d bloggers like this: