cangpanah
Ilusi Berita Positif Covid

Ilusi Berita Positif Covid

Dalam beberapa hari terakhir beredar narasi di grup aplikasi pesan dan media sosial yang isinya kira-kira begini: Mari sebarkan berita positif, bukan kasus positif. Berita positif akan ditangkap oleh otak sebagai hal positif dan akan menjadi semangat positif, sehingga bisa memperkuat imun… dan seterusnya

Sekilas, narasi itu benar. Benar bahwa hal positif akan akan jadi energi positif dan melahirkan semangat positif. Tapi sebetulnya yang dibutuhkan sikap dan pikiran positif. Kita bisa bersikap dan berpikir positif dalam kondisi apa pun, baik ketika ada berita baik maupun berita buruk. Poinnya adalah “bersikap dan berpikir positif”.

Bagaimana penerapan “bersikap dan berpikir positif”? Jika kita melihat banyak orang sakit, maka kita mensugesti diri sendiri untuk selalu sehat sembari menjaga kesehatan. Jadi orang sakit itu menjadi semacam peringatan agar kita lebih ketat lagi menjaga kesehatan. Jika tidak ada informasi tentang orang sakit, bisa jadi tidak perduli dalam menjaga kesehatan.

Begitu pula dalam kasus Covid-19. Jika yang muncul hanya informasi tentang orang-orang sehat, maka boleh jadi banyak mengira wabah ini sudah redup. Mereka larut dalam ilusi yang sesungguhnya semu. Padahal, wabah ini masih begitu parah mengancam. Nah, ancaman ini harus disampaikan agar orang punya kesiapan menghadapinya.

Sebetulnya kita sedang menghadapi perang. Jika kita menyebar informasi bahwa perang itu baik-baik saja, tidak ada korban, maka orang-orang pun menjadi tidak awas. Bahkan, tidak perduli pada perang itu dan menganggapnya tidak ada. Padahal perang banyak memakan korban. Dan orang-orang pun tidak siap ketika musuh itu datang, karena mengganggapnya tak ada.

Jadi informasi atau berita tentang korban penting diketahui sebagai peringatan bahwa perang itu masih ada dan nyata. Sehingga orang-orang punya kesiapan menghadapinya. Sementara informasi tentang kemenangan pun perlu untuk penyemangat bagi yang berperang bahwa potensi menang itu besar. Jadi kedua informasi itu (korban dan kemenangan) sama pentingnya.

Dalam konteks Covid, jika hanya memberitakan kesembuhan tanpa memberitakan kasus, bisa berakibat angka #COVID19 justu bakal meledak lebih parah. Sebab, orang sudah larut dengan berita gembira, tapi lupa bahwa musuh masih ada. Dengan adanya berita banyak korban itu saja masih banyak orang tak taat prokes, apalagi ketika yang dimunculkan narasi seolah baik-baik saja.

Jangan bilang tidak ada jurang, jika di depan kita banyak jurang. Jika kita menyebarkan informasi yang salah maka banyak orang akan masuk jurang. Justru dengan mengetahui ada jurang, maka semua kita akan mencari cara bagaimana agar tidak jatuh ke dalam jurang. Kita bisa bersiap mengantisipasinya.

Jadi jangan menyembunyikan fakta dan informasi. Kebenaran (informasi) harus disampaikan walau pun pahit. Justru dari situlah kita bisa bertolak untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman. Tanpa informasi yang benar, akurat, dan berimbang kita akan sulit bersikap dan mengambil langkah menghadapinya.

Hati-hati. Jangan menyebarkan ilusi. Sebab ilusi bisa melenakan. Itu membahayakan.

MI 210721
MUSTAFA ISMAIL
IG/Twitter: @moesismail

——
>ILUSTRASI: Pixabay.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: