Mulut Terminal

CERPEN: Mustafa Ismail SEMUA bermula pada satu sore. Matahari masih menyala. Orang-orang terus mengalir ke terminal itu, tempat bus-bus ukuran besar antar provinsi bahkan antar pulau, datang dan pergi membawa penumpang. Dewi, isteriku, buru-buru ke sana untuk mengejar bis malam untuk pulang kampung, karena mendapat kabar ibunya sakit keras. Berkali-kali ia memberi aba-aba kepada sopir taksi yang membawanya, agar melaju […]