Inspirasi
Mengenang Damiri Mahmud, Sastrawan Penting dari Sumatera Utara

Mengenang Damiri Mahmud, Sastrawan Penting dari Sumatera Utara

Saya membaca tulisan-tulisannya sejak awal 1990-an. Kala itu, saya baru mulai menekuni (secara intens) dunia menulis. Mulai dari menulis puisi, cerpen, dan esai. Pak Damiri kerap menulis di Harian Waspada, sebuah koran terkemuka di Medan. Saya pun — selain menulis di Serambi Indonesia, Banda Aceh — banyak menulis di Waspada.
Tapi saya tak kenal secara personal satu pun sastrawan Medan, apalagi editor budaya koran-koran di sana. Saya hanya mengenal nama mereka lewat tulisan. Termasuk Pak Damiri Mahmud, yang cukup produktif menulis — puisi, cerpen, esai, termasuk artikel bertema agama — di koran Waspada terutama.

Saya baru ketemu Damiri Mahmud sekitar 19 tahun kemudian, pada 2009. Kala itu, kami (saya dan Fikar W Eda) menggagas Aceh Internasional Literary Festival di Banda Aceh. Pak Damiri bersama sejumlah sastrawan lain hadir. Ia sosok yang tenang . Ia tidak memposisikan diri sebagai “nama besar’, sehingga dengan mudah akrab dengan siapa saja, termasuk anak-anak muda yang jauh di bawahnya. Padahal, ia salah satu sastrawan penting dari Sumatera Utara. Namanya dikenal secara nasional. Ia mengamati karya-karya anak muda dan mengenal mereka, termasuk saya.

Damiri lahir di Deli Serdang, Sumatera Utara, 17 Januari 1945. Ia telah melahirkan banyak buku, mulai dari puisi, cerpen, novel, hingga buku-buku non fiksi seperti “Rumah Tersembunyi Chairil Anwar” dan “Menafsir Kembali Amir Hamzah”. Damiri memang sangat paham tentang dua sosok sastrawan penting itu. Ia kerap menjadi narasumber media dan berbagai forum membicarkan Chairil dan Amir. Ia pun suka menulis pemikiran dan referensinya tentang kedua tokoh itu di Facebook miliknya, terutama ketika menanggapi sesuatu.

Karya-karya Damiri dimuat di berbagai media di Indonesia. Novelnya, Teka-Teki, diterbitkan oleh Marwlis Publisher, Selangor, Malaysia, pada 1988. Tak hanya karya sastra modern, Damiri juga menulis cerita rakyat. Bahkan, salah satu cerita rakyatnya, Membalas Budi, mendapat penghargaan Perpustakaan Sumatera Utara pada 1978.

Bukunya yang lain seperti Kontroversi Al-Quran Berwajah Puisi, Ensiklopedia Sejarah dan Kebudayaan Melayu, Menafsir Kembali Amir Hamzah (2013 dan, 2017), Rumah Tersembunyi Chairil Anwar (2014 dan 2018). Buku puisinya, Halakah Panggung, masuk dalam lima pemenang buku pilihan Sayembara Buku Puisi yang diadakan Hari Puisi Indonesia pada 2018.

Untuk bidang kritik sastra, ia pernah mendapat hadiah utama dalam Sayembara Penulisan Kritik Sastra se-Indonesia pada 1984. Pada tahun itu ia juga diundang menjadi pembicara dalam Pertemuan Kritikus dan Sastrawan se-Indonesia di Jakarta. Ie memang menulis aneka genre karya sastra, mulai dari puisi, cerpen, novel, kritik sastra hingga artikel budaya, agama, dan politik.

Sastrawan D Zawawi Imron, yang mengenal Damiri sejak 1983, mengenang bahwa Damiri sebagai sahabat yang baik. Suatu kali, ketika Zawawi mengisi sebuah acara di Medan, hampir tiap malam Damiri menemaninya. “Tulisan-tulisannya tentang puisi dan keagaman sangat cerdas,” kata Abah Dzi, sapaan kami kepada D Zawawi. “Orangnya pemikir, perenung, tulisannya banyak renungan.”

Setelah bertemu dalam acara di Aceh, kami kembali bertemu pada 2017 di Siak, Riau, dalam sebuah acara. Meskipun sudah sepuh, ia rajin hadir dalam banyak acara sastra. Dan foto ini ketika kami bertemu di Riau. Ternyata itu pertemuan terakhir kami. Pada Desember 2019, saya mendengar kabar ia sakit lalu tak lama kemudian, masih pada bulan itu, ia berpulang. Saya sempat mengontak keluarganya dan mendapat kabar bahwa beberapa bulan terakhir (sebelum meninggal) kesehatannya memang turun. Beberapa kali dirawat di RS.

Sebelumnya, pada tahun itu, ia baru saja menerbitkan buku puisi berjudul Menjadi Tanah. Buku yang memuat 70 puisinya itu seperti menjadi isyarat bahwa ia akan segera pergi. Salah satu puisinya, yang menjadi judul buku itu yakni Menjadi Tanah berbunyi:

“Aku hanya serabut halus dan lemah/ merayap tak kenal lelah/ dan mencucuk selangkang tanah/ ketika buah membesar ranum dan memerah/ engkau lupa pada yang berada di bawah.” Pada bagian sajak akhir, ia menulis: sejak itu setiap hari aku selalu digoda kejatuhan/menjadi ulat menjadi cendawan/ kembali menjadi tanah..

MUSTAFA ISMAIL | @ruangmi | @moesismail

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: