cangpanah
Batang

Batang

Batang, Jawa Tengah, adalah daerah yang tenang dan jauh dari hiruk-pikuk. Di jalanan Batang kita dengan mudah menemukan orang-orang yang melaju tanpa terburu-buru, seolah tak ada yang harus ngotot dikejar dalam hidup ini. Santai, namun bersemangat. Banyak yang bermotor, tak jarang pula yang bersepeda. Ada pula yang berjalan kaki atau menggunakan becak tradisional yang didayung dari belakang.

Kabupaten Batang dengan jumlah penduduk sekitar 700 ribu jiwa itu memilik pendapatan perkapita Rp 19.530.000. Ia berada di atas Pekalongan, yang bertetangga Rp 17.605.000 dengan penduduk hampir 900 ribu jiwa. Warga Batang bekerja sebagai petani, nelayan, pedagang, pegawai negeri, wiraswasta dan karyawan di sejumlah perusahaan dan industri. Meski kota kecil, lebih kecil dari Pekalongan, upah minimum di KabupatenBatang sedikit lebih tinggi dari Pekalongan. Upah minimum Batang 1.9 juta, dan Pekalongan Rp.1,859 juta.

![BATANG PENDapatan perkapita Jawa Tengah 2014.jpg](https://cdn.steemitimages.com/DQmTd24NF3f3DrPFEVykqQM2Bf6ikFEFwj7UsTFLymcvdMj/BATANG%20PENDapatan%20perkapita%20Jawa%20Tengah%202014.jpg)

Meski tak menjadi indikasi kemakmuran, tapi nilai upah minimum itu menunjukkan Batang lebih tinggi inflasinya dibandingkan kota batik Pekalongan. Harga-harga kebutuhan pokok di Batang jauh lebih tinggi dari Pekalongan. Pendeknya, kebutuhan hidup di Batang lebih besar ketimbang Pekalongan. Tapi tentu biaya hidup Batang jauh lebih rendah dibandingkan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang dan Surabaya. Di banyak tempat di Batang, kita mudah mendapatkan teh manis seharga Rp 2 ribu, mie ayam atau bakso Rp 6 ribu, hingga makanan kekinian seperti ayam geprek Rp 9.500 sudah termasuk nasi dan es teh manis.

Tapi kita tidak bisa mendapatkan harga semurah itu di tempat-tempat wisata, pusat perbelanjaan, warung-warung waralaba dan sejumlah warung di jalan pantai utara (Pantura). Seperti posting saya terdahulu, di sebuah camping ground berjarak 20-an km dari Kota Batang, es kopi sasetan dibandrol Rp 7 ribu. Warung-warung sepanjang jalan pantura harga makanannya mengikuti harga kota besar. Begitu pula di alun-alun Batang harganya merefleksikan “ekonomi Jakarta”. Boleh jadi para pedagang di sana memiliki persepsi bahwa yang mampir adalah orang lewat yang pendapatannya lebih baik dari orang setempat. Padahal itu belum tentu benar.

Seperti di Malioboro di Yogyakarta, terkadang kita harus bertanya harga dulu sebelum memutuskan membeli atau makan di tempat-tempat yang menjadi identitas sebuah kota. Harga-harga di tempat semacam itu bisa sangat fluktuatif, mengikuti siapa yang bertransaksi. Jika pendatang, tamu atau pelintas, pasti harganya jauh lebih tinggi ketimbang yang bertransaksi orang setempat. Membedakan pelintas dengan warga lokal mudah saja, mulai dari penampilan hingga (dialeg) bahasa. Warung-warung enggan memasang harga di daftar menu agar bisa diakali sesuai situasi pada saat orang membeli.

Inilah ironi lain dari orang Indonesia. Cara berniaga semacam ini telah menjadi laten dalam masyarakat Indonesia. Seolah ini sah dan benar, padahal sesungguhnya bisa memberi citra negatif bagi sebuah kota. Citra negatif ini bisa merusak kultur positif dan wajah asli kota tersebut. Di Batang, misalnya. Jika ingin tahu kultur ekonomi asli warganya, masuklah sedikit ke jalan-jalan kota atau kampung, kita akan dengan mudah menemukan harga makanan yang menjadi keumuman daerah itu. Kita akan mudah menemukan harga semangkok bakso Rp 6.000 atau sebungkus nasi rames seharga Rp 5.000. Sangat murah dan itulah wajah asli kota itu.

MI | BTG 161219

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: