esai
Puisi Gelap Politik

Puisi Gelap Politik

Kita sering lupa adigium politik: tidak ada kawan atau musuh abadi, yang ada adalah kepentingan abadi. Jika sejak awal kita sadar barangkali kita tidak akan terlalu uring-uringan ketika tokoh idola kita berbalik haluan, yang tadi berseberangan tapi kemudian berangkulan, yang tadi saling serang tapi kemudian saling berbagi “kasih sayang”. Ini lumrah saja dan tak istimewa.

Maka itu, tidak perlu “cinta buta” pada tokoh idola. Tidak perlu membabi-buta membela sang pujaan. Tak perlu membabi-buta membenci seseorang. Hadapi politik sebagai sebuah permainan ketangkasan — sesekali mungkin komedikal agar punya ruang bagi kita tersenyum bahkan tertawa. Dengan begitu kita akan selalu plong menghadapi segala kemungkinan dan tak patah hati ketika fakta politik tak sesuai harapan.

Politik adalah ruang untuk berneosiasi, yang terkadang melampaui realitas (hyperialitas, kata ahli semiotika) dan tak terbayangkan. Sesuatu yang tadinya cuma bisa kita temukan di dunia fiksi pada saat lain bisa kita temukan dalam dunia nyata. Merujuk ilmu semiotika, politik adalah dunia tanda — yang tidak bisa dibaca secara verbal dan kasat mata. Politik memproduksi simbol-simbol yang harus didalami dengan saksama. Ia seperti puisi yang gelap.

MI 13102019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: