puisi

Pesta Tahun ke-20

masih teramat rahasia, ke mana aku berlabuh
sebuah negeri yang berderang sejuta tata lampu
atau sebuah pulau terasing yang berkabut?
sekarang tanggal 25 Agustus 1991, tanggal berapa
nanti aku akan tiba di sana, berapa mil lagi
jaraknya. jauh sebelum kubur atau dekat kubur?

sampai di sini, sejenak aku ingin istirahat
mengutip jejak-jejak lampau. luka-luka
kubangunkan dari kuburnya, menyatu dengan
rembulan. sesaat kubiarkan mereka berdansa di
ruangan ini, sebelum semuanyua kubungkus dan
kuperas. santanya menjadi hidangan istimewa
dalam pesta ini. kemudian kukatakan kepada yang
hadir: inilah hidangan kemarin yang disediakan tuhan!

bna, 1991

>puisi ini dari bundel “Perjalanan” (Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992).

>Foto utama: pixabay.com/hermann

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: