esai

Ketika Hoax Tak Terbendung, Perlukah Seniman Terlibat?

Dalam kamus bahasa Indonesia online hoax (dalam bahasa Indonesia ditulis dengan hoaks) artinya berita bohong. Berita dimaksud tentu saja bukan seperti berita di media massa, yang punya standar tertentu dan harus memenuhi unsur 5W1H. Dalam pengertian kamus, berita adalah: cerita atau keterangan mengenai kejadian atau peristiwa yang hangat; laporan; pemberitahuan; pengumuman.

Saya bersama Weye Haryanto diminta untuk menjadi pemancing diskusi “Hoaks Merajalela, Seni Ada di Mana” yang digelar di Marto Artcentre, Jakarta, Sabtu, 2 Februari 2019. Diskusi tersebut diadakan bagian dari kegiatan pameran Jeffery Sumampouw dan Puguh Warudju selama sehari pada hari tersebut, 2 Februari. Diskusi dihadiri oleh sejumlah seniman, mulai dari senirupa hingga sastra. Usai diskusi, ada pula pembacaan puisi oleh penyair Iman Sembada, Willy Ana, Puguh Warudju, Ireng Halimun, dan lain-lain.

Ada banyak pendapat yang muncul dalam diskusi itu, mulai dari persepsi tentang hoax, hingga keterlibatan seniman. Ada pendapat bahwa hoax baru disebut hoax ketika berdampak negatif. Namun, seniman lain menggugat pendapat tersebut bahwa yang namanya berita palsu atau informasi bohong pastilah berdampak negatif, besar atau kecil. Namun semua peserta satu paham: bahwa hoax begitu mendominasi perpolitikan tanah air.

Sebetulnya, hoax bukan hanya berada di wilayah politik, tapi menjangkau berbagai aspek dan tema. Cuma, menurut sebuah riset, paling banyak hoax beredar dalam ranah politik. Riset pula menunjukkan bahwa hoax atau berita bohong itu paling banyak disebar melalui media sosial Facebook, disusul Instagram dan WhatsApp. Ini bisa dipahami karena Facebook memang paling populer di kalangan masyarakat kita.

Diskusi soal keterlibatan seniman dalam melawan hoax juga menarik. Sebagian seniman berpendapat seniman perlu terlibat langsung untuk melawan hoax melalui karyanya. Bahkan, ada peserta diskusi yang mengusulkan dibuatkan kegiatan perlawanan hoax oleh seniman. Namun, peserta lain berpendapat berbeda. Biarlah seniman merespon hoax itu dengan caranya masing-masing dalam karyanya.

Saking hidupnya diskusi itu, waktu diskusi berlangsung lebih dari tiga jam, mulai dari jam 16.30 hingga pukul 20.00 malam dengan jeda salat magrib. Pokok-pokok pikiran saya dalam diskusi itu saya tuliskan dalam sebuah tulisan yang akan saya posting secara bersambung di blog saja ini – musismail.com dan steemit.com/@musismail mulai hari ini. Mari nikmati dan berdiskusi tentang hoax.

DEPOK, 4 Januari 2019
MUSTAFA ISMAIL

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: