Miskin atawa Ketika Tubuh Digayut Sakit

Aslinya, sesuai ketikan di bundel “Perjalanan” (Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992″ puisi ini berjudul “Ketika Tubuh Digayut Sakit”. Tapi, entah kapan, judul puisi itu kemudian saya coret dengan ballpoin dan di atasnya saya tulis kata “Miskin” sebagai judul baru — dengan huruf kapital. Puisi yang lahir pada 1991 ini saya ketik ulang seperti aslinya di bundel itu.

Hampa

sia-sia. matahari bergulir bagai desing peluru membentangkan padang-padang tandus. laut mana kucari tersimpan mimpi-mimpiku. pada langit hanya membersit jalan.

Pesta Tahun ke-20

masih teramat rahasia, ke mana aku berlabuh sebuah negeri yang berderang sejuta tata lampu atau sebuah pulau terasing yang berkabut? sekarang tanggal 25 Agustus 1991, tanggal berapa nanti aku akan tiba di sana, berapa mil lagi jaraknya. jauh sebelum kubur atau dekat kubur?

Terompet

aku telah membuang bunyi-bunyian itu jauh sebelum kau menulis daftar menu untuk tahun baru: tusuk sate, pentas dangdut, suite room, sepatu, dasi kupuh-kupu juga kekasih baru

Memar, Kisah tentang Sebuah Kesadaran

Puisi ini saya tulis seusai ujian di kampus pada 11 Agustus 1991. Saya tidak ingat apa yang melecut saya menulis puisi ini. Hal yang bisa saya catat: puisi menyuratkan sekaligus menyiratkan kesadaran tertentu terhadap sebuah keadaan. Terkadang, baru menyadari sesuatu ketika berada di satu titik. Begitu pun saya. Saya tersentah oleh sebuah peristiwa dan saat itulah saya tersadar.

Haminsatu Ziarah Sunyi

Ziarah Sunyi adalah buku kumpulan puisi relegi, yang kami terbitkan untuk Tadarus Puusi yang diadakan oleh Teras Budaya di Tempo pada Ramadan 2017 (Juni 2017). Buku itu dikuratori/editori oleh tiga orang: saya (Mustafa Ismail), Iwan Kurniawan dan Juli Hantoro.

Catatan Tanah Kota

Pada tahun 1989, seorang paman saya yang bekerja di sebuah perkebunan di wilayah Sumatera Utara memilih pensiun dini. Ia pun pulang ke Aceh membuka sebuah usaha, menyewa toko di kawasan Merduati, Banda Aceh. Ia membentuk koperasi untuk memberdayakan pembuat dan pedagang tahu-tempe di Banda Aceh.

Kenapa Kita Menjadi Pengecut

Puisi “Kenapa” saya petik dari bundel “Perjalanan”. Puisi ini saya tulis pada 1991 dan pernah dimuat di Harian Serambi Indonesia pada 1991. Ini semacam perenungan terhadap perjalanan. Adakalanya kira ragu-ragu menghadapi sesuatu, tapi justru itu membuat kita tidak “ke mana-mana”. Tapi, keraguan adalah hal lumrah dalam hidup, sebagai sebuah proses pematangan diri.

Syair Kehilangan, Perlukah Kita Menangis?

Perlukah kehilangan ditangisi? Ada yang menangisi, dan ada yang tidak. Semua orang punya cara sendiri menghadapi kehilangan. Masing-masing kita punya kearifan sendiri untuk memaknai kehilangan. Puisi berikut, lagi-lagi, saya kutip dari bundel puisi saya tahun 1990-1992 bertajuk “Perjalanan”. Inilah cara saya memaknai sebuah kehilangan.

Ibu, Ada Sebait Puisi Kubaca di Matamu….

Semua kita pastilah menempatkan ibu — dan ayah kita — di tempat paling terhormat dan paling mulia. Jadi, untuk puisi ini, saya tidak akan banyak bernarasi. Biarlah puisi ini yang menjelaskan semuanya. Seperti dua puisi yang posting sebelumnya, puisi ini juga saya tulis pada 1990 dan terkumpul dalam bundel “Perjalanan”.

Potret Tua dan Refleksi Perjalanan

Seperti puisi “Tapak Sepatu”, puisi “Potret Tua, ini juga puisi lama yang saya kumpulkan dalam bundel puisi “Perjalanan: Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992”. Ini semacam refleksi terhadap perjalanan hidup. Kadang kita tidak menyadari tiba-tiba kita sudah berada di sebuah titik, halte, atau persinggahan. Nah, di situlah tak jarang memutar kembali “film” perjalanan kita.

Tapak Sepatu dan Bundel Puisi Berdebu

Puisi ini, “Tapak Sepatu”, saya tulis pada Januari 1990. Kala itu, saya baru mulai intens menulis puisi. Barusan saya menukan bundel puisi itu dalam bentuk ketikan mesin tik di rak buku, di antara buku-buku puisi yang berdesak-desakan di sana. Bundel buku itu saya beri judul Perjalanan (Sajak-sajak Mustafa Ismail 1990-1992).

Hijrah, Hijrah, Hijrah….

Seorang kawan bercerita kini makin banyak anak muda, yang tadinya hidup ugal-ugalan dan “liar”, mulai memperbaiki diri menjadi lebih baik. Sebagian di antara mereka adalah para pelaku seni dan hiburan. Mereka menjadi rajin ibadah, mulai ibadah wajib hingga sunat dan menjauhi hal-hal yang dilarang agama. Istilah populernya adalah hijrah. Kata itu diambil dari bahasa Arab, yang artinya berpindah tempat.

Pahala, Bakti dan Cinta

Ketika melewati sebuah jalan, suatu ketika, saya melihat spanduk dengan kata-kata yang sangat menohok, kira-kira begini: Sedekah adalah Tiket Menuju Surga. Spanduk itu dipasang oleh sebuah lembaga sosial-keagamaan yang mengumpulkan dana publik untuk disalurkan kepada orang-orang membutuhkan. Waktu kecil, saya kerap mendengar ceramah di meunasah bahwa memberi makan anak yatim pahalanya sangat besar.