puisi

Sajak Dibuang Sayang: Ironi Pagi

Saya tak ingat kapan puisi ini saya tulis, dugaan saya pada akhir 1990-an atau awal 2000-an. Saya tak sengaja menemukan filenya di komputer ketika membaca-baca tulisan lama. Saya belum berniat untuk memperbaikinya — agar layak dikirimkan ke koran misalnya. Saya posting saja dulu di sini seperti aslinya.

IRONI PAGI (1)

bisakah kau tak menyuguhkan apa pun
pagi ini, gosip di televisi sudah cukup mengenyangkan.

IRONI PAGI (2)

ketika koran mengetuk pintu pagi-pagi,
aku sudah baca berita yang diterbitkan

seorang pesohor mati di ujung pagi
seorang pencuri mati di ujung malam

ah, lebih baik kau tambahkan lagi tiga tangkup roti
sambil kita bincangkan semut-semut kelaparan

IRONI PAGI (3)

kau sempat terhenyak ketika tahu di negeri itu makin banyak senjata
yang menembak kepalanya sendiri tapi tak mati-mati

di gudang, sepasang tali sepatu pun terus mengikat lehernya sendiri
juga tak mati-mati
yang mati justru seekor kucing yang melintas di sana

karena melihatku heran sekali, seseorang berbisik:
itu ada paman di belakangnya.

IRONI PAGI (4)

cintamu tak harus seluas samudra, katamu,
aku tak kuat mengarunginya
tapi cukup sekotak berlian saja
biar aku bisa membawanya kemana-mana.

IRONI PAGI (5)

di meja makan, sebelum berangkat,
mereka bercakap:

yang selalu kuingat tentangmu adalah senyuman,
kata lelaki itu

yang selalu kupikirkan tentangmu adalah berlian,
kata perempuan itu.

MUSTAFA ISMAIL
musismail.com
twitter: @musismail
IG: @moesismail

Tags :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: