esai

Catatan Kurasi Puisi dan Cerpen Anugerah Litera (3)

>Anugerah Sastra Litera 2018 menemukan banyak karya penulis muda. Ini adalah catatan kami (MI, Iwan Kurniawan dan Mahrus Prihany) sebagai juri dan sekaligus kurator kegiatan itu.

Dalam menulis cerita pendek pun demikian. Salah satu kekuatan cerita terletak pada kesegaran atau kebaruan dalam sejumlah hal, mulai dari gagasan, cerita, cara ungkap hingga hal-hal dasar, seperti adegan, alur, suspense, drama dan ending. Semuanya harus menghadirkan kebaruan dan kesegaran. Bukan sesuatu yang biasa (pernah) kita dengar, lihat, tonton dan baca. Sehingga, ketika pembaca menikmati cerpen tersebut benar-benar mendapatkan suatu yang baru dan, bila mungkin, mengejutkan. Selain itu, tentu saja, aspek penceritaan penting.
Salah satu cerpen yang menarik dalam buku ini adalah karya Armin Bell berjudul “Monolog di Penjara”. Cerpen ini sesungguhnya sederhana, tentang seseorang mengunjungi tahanan di penjara. Pertemuan itu menjadi bingkai tempat kisah mengalir lewat percapakan keduanya. Narapidana itu dipenjara karena membunuh seorang perempuan. Sekilas hal itu biasa, namun motif dia membunuh yang tak biasa. Penulis juga mampu menggambarkan pandangan dan sikap sang pembunuh melalui dialog.
Armin Bell pun dengan terampil mengikat kita untuk terus mengikuti kisah tentang dua orang itu. Drama, tragedi, sekaligus komedi dihadirkan sekaligus dalam cerpen ini. Kita dibawa seolah-oleh sedang menonton sebuah “pertunjukan” atau semacam film tentang dua tokoh yang serius sekaligus konyol. Boleh jadi, cerpen ini sekaligus mengejek kekonyolan hidup kita sekaligus mentertawakan kepura-puraan kita. Silakan Anda baca sendiri cerpen tersebut dan menikmatinya.
Cerpen Armin Bel dan puisi Willy Ana bolehlah menjadi salah satu contoh menarik untuk kita simak di antara sekian cerpen dan puisi menarik lainnya dalam buku ini. Namun, yang terpenting, para penulis di buku ini telah mencoba menempuh jalan sulit: menjelajah wilayah-wilayah baru dengan caranya masing-masing. Penjelajahan itu baru dimulai dan penuh onak dan duri. Tak semua pengarang bersedia menempuhnya tapi mereka telah memilih jalan ini. Itulah yang membuat kami optimistis bahwa sastra Indonesia masih hidup dan terus tumbuh.

Jakarta, 20 Juli 2018
Kurator,

Mustafa Ismail
Iwan Kurniawan
Mahrus Prihany

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: